Konflik Tarakan

Atasi Konflik Tarakan Cepat-Terpadu

PolitikindonesiaPresiden Susilo Bambang Yudhoyono mengingatkan para  pejabat negara, kepala daerah, termasuk petugas keamanan untuk tidak menganggap enteng bentrokan di Kabupaten Tarakan, Kalimantan Timur. Presiden meminta aparat bisa mencegak kasus ini agar tidak meluas dan besar. Untuk itu diperlukan langkah cepat dan terpadu. 

Sebelumnya diberitakan, bentrokan di Kabupaten Tarakan, Kalimantan Timur menyebabkan lima orang tewas dan delapan lainnya luka-luka.

“Saya ingatkan lagi kepada tiga pejabat (Kapolri, Panglima, Gubernur Kalimantan Timur) yang tadi pagi saya berikan instruksi, dulu kenapa peristiwa Sampit, Kalimantan Tengah, jadi meluas dan besar,” kata SBY usai menerima Gubernur Aceh di Kantor Presiden, Rabu, (29/09).

Menurut  Presiden, berkaca pada kasus-kasus sebelumnya, sebuah peristiwa konflik menjadi meluas dan besar terjadi disebabkan, begitu kerusuhan meletus, misalnya di Sampit,  tidak segera dilakukan langkah-langkah yang cepat dan terpadu. Akibatnya, peristiwa berdarah yang terjadi sekitar 10 tahun lalu itu memakan korban jiwa yang tidak sedikit.

Untuk itu, kata Presiden, penanganannya tidak boleh hanya dipasrahkan kepada TNI dan Polri. “Saya harapkan masyarakat, bupati, tokoh adat, gubernur, turun ke lapangan,” tegas SBY.

Presiden mengimbau agar warga dua komunitas di Tarakan untuk menahan diri dan mengakhiri konflik. “Siapa yang bersalah diberi sanksi. Manakala ada pelanggaran hukum, hukum harus ditegakkan,” kata SBY.

Selain itu, Presiden juga mengingatkan agar media mewartakan informasi secara obyektif dan konstruktif. “Jangan sampai menyulut, karena bisa menimbulkan peristiwa yang besar lagi,” katanya.

Sementara itu, Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi mengaku, sudah tiga kali menghubungi Gubernur Kalimantan Timur Awang Faroek Ishak terkait kasus ini. “Terakhir kemarin siang saya telepon lagi, Gubernur katanya situasi semakin membaik, situasi bagus. Eh, tiba-tiba tadi malam terjadi lagi,” kata Gamawan.

Untuk mengendalikan situasi, Polri telah memberangkatkan 172 personel tambahan. Menurut Wakil Kepala Divisi Humas Mabes Polri Brigjen I Ketut Untung Yoga Ana mereka diberangkatkan Rabu pukul 03.00 dini hari.

Selain itu, TNI juga telah memberangkatkan satu batalyon pasukan ke Tarakan. “Pasukan dari Batalyon 611 Kodam VI TPR,” kata Kepala Dinas Penerangan Umum TNI Kolonel Prakoso.

Prakoso menegaskan, tak ada satupun anggota TNI yang terlibat bentrok. Bentrokan yang terjadi sesama warga sipil dari suku tertentu. “Kapasitas TNI untuk ikut membantu Polri agar situasi kembali kondusif. Pasukan ditempatkan di titik-titik yang dianggap rawan terjadinya bentrok susulan,” katanya.

—————————————————————————————————

Sempat Alot, Wakil Bugis dan Suku Tidung Berangkulan

TARAKAN-Kelompok-kelompok yang sebelumnya bertikai di Tarakan hingga membuat kota itu rusuh dan menewaskan lima orang bersepakat damai kemarin (30/9). Perdamaian tersebut difasilitasi Gubernur Kaltim H Awang Faroek Ishak dan disaksikan Kapolda Kaltim Irjen Pol Mathius Salempang. Pangdam Mulawarman Mayjen

Tan Aspan. serta bupati-wakil bupati se-utara Kaltim dan pejabat lainnya.

Acara bersejarah itu dilaksanakan di Swiss-Bell Hotel. Tarakan. Kesepakatan damai tersebut dihadiri wakil dua pihak yang bertikai. Kelompok Bugis diwakili H Sani dan Suku Tidung diwakili H Abdul Wahab. Hadir pula beberapa wakil keluarga korban, baik korban tewas maupun yang mengalami luka-luka parah.

Total ada 10 item perjanjian yang telah disepakati dua pihak yang sebelumnya bertikai . hebat itu. Di antaranya, dua pihak sepakat mengakhiri segala bentuk pertikaian dan membangun kerja sama yang harmonis demi kelanjutan pembangunan Kota Tarakan khususnya dan Kaltim pada umumnya Disebutkan juga dalam perjanjian itu, dua pihak memahami bahwa kerusuhan yang telah terjadi adalah mumi persoalan tindak pidana dan merupakan persoalan individu, bukan persoalan kelompok/suku/agama. Karena itu, mereka sepakat menyerahkan penanganan persoalan tersebut kepada aparat yang berwajib sesuai ketentuan hukum. Larangan membawa dan menggunakan senjata tajam di tempat-tempat umum juga disepakati.

Setelah perjanjian damai itu dibacakan, masing-masing pihak yang bertikai membubuhkan tanda tangan. Selanjutnya, mereka saling berangkulan diiringi tepuk tangan dan air mata para undangan yang hadir.

Wakil Suku Tidung, H Abdul Wahab, setelah penandatanganan perdamaian mengaku gembira atas adanya kesepakatan tersebut. “Sudah, tak usah diungkit-ungkit lagi. Yang sudah terjadi biarlah sudah. Yang paling baiknya itu adalah semua harus selesai hari ini. Jadi, yang sudah lewat itu sudahlah jangan diberitakan lagi,” tegasnya.

Salah seorang tokoh Bugis yang hadir dalam pertemuan. Yancong. menyatakan lega atas hasil kesepakatan dua pihak. “Saya kira, ini sangat menggembirakan, termasuk saya secara pribadi dan masyarakat Pinrang, Sulsel (Bugis), secara umum. Bahwa yang kita khawatirkan selama ini bisa kita selesaikan dengan baik dan berakhir dengan hasil yang sangat memuaskan.” ungkapnya.

Sebelumnya, perundingan dua pihak berlangsung alot. Sejak Rabu sore (29/9), perundingan digagas dan dilaksanakan di ruang VIP Bandara Juwata. Tarakan. Gubernur dan Kapolda serta Pangdam menjadi mediator. Malam itu. sempat tersiar kabar bakal ada kesepakatan. Namun, saat sosialisasi, ada ganjalan dari kubu Suku Tidung. Akhirnya, perjanjian dilanjutkan keesokannya (30/9).

Beberapa pihak juga puas dengan kesepakatan damai itu. Misalnya Brigjen Ibrahim Saleh, utusan kepala safTNl-AD. “Saya sangat bangga dengan keputusan ini. Saya yakin semua bisa menerima dan ikut mendukung sosialisasi hasil pertemuan ini sampai ke tingkat bawah,” tegasnya.

Letkol Arm .Andi Kaharuddin, Dandim 0907 Tarakan, juga menyatakan salut kepada dua pihak. “Seluruh warga mendambakan kesepakatan damai ini dan sejarah damai itu dibuat warga Tarakan yang menginginkan kedamaian. Saya salut,” tegasnya. ,

Kapolda Kaltim Inspektur Jenderal Polisi (Irjen Pol) Mathius Salempang akhirnya mengeluarkan maklumat pertama pada 2010 menindaklanjuti kesepakatan damai atas peristiwa kelabu di Tarakan. Dia meminta maklumat tersebut dijalankan dan dipatuhi secara bersama dengan kesadaran seluruh pihak.

“Saya tegaskan kembali, jangan pernah melihat maklumat ini ditandatangani Kapolda Kaltim. Namun, maklumat ini adalah bagian dari kesepakatan bersama atau bagian wujud komitmen bersama dalam menghadirkan situasi aman dan tertib di Kaltim,” tegasnya.

Menurut Mathius, maklumat yang dikeluarkan tersebut memang sangat ampuh. Baru semalam saja dikeluarkan, maklumat itu langsung direspons. “Itu menunjukkan bahwa masyarakat menginginkan itu semua (kedamaian) dan mereka dengan sukarela menyerahkan senjata tajam masing-masing,” ujarnya.

Dia mengungkapkan, sempat beredar isu bahwa polisi merazia senjata tajam (sajam) ke rumah-rumah warga. “Saya tegaskan, itu salah. Yang kami kumpulkan adalah senjata tajam yang dibawa ke jalan-jalan dan berkeluyuran di jalan. Kecuali senjata api.” tegasnya

Sebab, perlakuan senjata tajam dan senjata api sangat berbeda. Untuk senjata api. penggunaannya harus memiliki izin khusus. “Jadi, saya tegaskan, tidak ada razia ke rumah-rumah,” katanya.

Menurut pantauan Radar Tarakan (INDOPOS group) selama sehari kemarin, kondisi sudah berangsur-angsur normal. Toko-toko kembali buka, meski belum seluruhnya. Pasar pun kembali beraktivitas. Termasuk, sudah ada angkutan umum yang beroperasi. Sebelumnya, kondisi Tarakan lumpuh total.

———————————————————————————————

Rusuh yang meledak di Tarakan, Kalimantan Timur, mesti menjadi pelajaran berharga bagi pemerintah, terutama pemerintah daerah. Kesenjangan antara penduduk pendatang dan penduduk asli harus segera diatasi. Bila kesenjangan sosial, budaya, dan ekonomi telanjur menganga, masalah yang kelihatannya sepele saja bisa memicu konflik besar.

Begitulah yang terjadi di Tarakan baru-baru ini. Kerusuhan meletup tak lama setelah muncul perkelahian antara pemuda Bugis dan suku Tidung–penduduk asli Tarakan. Para sesepuh Tidung kemudian melancarkan perang terhadap orang-orang Bugis. Huru-hara yang berlangsung selama beberapa hari ini menyebabkan korban tewas dan terluka berjatuhan. Kota Tarakan sempat lumpuh. Pasar, toko-toko, dan sekolah tutup. Sekitar 4.000 warga mengungsi ke kantor polisi, markas tentara, dan rumah sakit karena ketakutan.

Kerusuhan itu baru bisa diredakan setelah para tokoh dari dua kelompok yang bertikai sepakat menyetop permusuhan. Mereka meneken 10 butir kesepakatan, yang antara lain menyatakan bahwa menganggap segala kejadian itu murni tindak pidana dan menyerahkan penyelesaiannya kepada kepolisian. Secara berangsur-angsur, mulai kemarin penduduk yang mengungsi telah kembali ke rumah dan beraktivitas seperti biasa.

Mempertemukan para tokoh dari kedua belah pihak memang merupakan resep jitu untuk menghentikan konflik. Cara ini pulalah yang dulu dilakukan dalam meredam kerusuhan Ambon, Sanggauledo, dan Sampit. Semakin sering para tokoh setempat bertemu akan semakin mencairkan ketegangan. Tahap berikutnya tentu saja menyelesaikan konflik lewat penegakan hukum yang tegas, adil, dan tanpa mengundang pertikaian susulan.

Hanya, untuk menuntaskan akar persoalan di balik kerusuhan itu, pemerintah masih perlu bekerja keras. Pemerintah daerah harus menghentikan proses marginalisasi secara sosial, ekonomi, dan politik yang dialami oleh orang-orang Tidung di Tarakan. Mereka semakin tersisih bukan hanya karena jumlahnya yang semakin sedikit, melainkan juga lantaran minimnya keterlibatan mereka dalam penyelenggaraan pemerintahan dan aktivitas bisnis.

Kini jumlah suku Tidung hanya sekitar 10 persen dari seluruh warga Tarakan. Sejak zaman penjajahan Belanda, mereka terdesak oleh para pendatang, yang umumnya berasal dari Jawa dan Bugis. Proses marginalisasi ini berlangsung hingga sekarang. Fenomena ini juga menunjukkan tak adanya kemauan sungguh-sungguh pemerintah, terutama pemerintah daerah, membantu mereka agar tidak terlalu tertinggal dari masyarakat pendatang.

Itulah pentingnya Pemerintah Kota Tarakan menengok kembali nasib orang-orang Tidung. Tak cukup hanya dengan cara melestarikan seni-budaya suku ini, pemerintah daerah juga harus memberikan kesempatan yang lebih luas bagi mereka untuk mendapat pendidikan dan kehidupan yang lebih baik. Hak mereka mendapat persamaan di depan hukum dan pemerintahan pun wajib diperhatikan.

Hanya dengan cara seperti itu kesenjangan sosial bisa dikurangi, dan konflik sosial bisa dicegah.

—————————————————————————————

DUA hari saya berupaya keras untuk bertemu tokoh sentral suku Tidung. Namanya, H Abdul Wahab. Pria berusia 65 tahun ini yang menandatangani Kesepakatan Damai dengan suku Letta, untuk mengakhiri konflik di Tarakan.

Perjalanan menuju rumah Abdul Wahab hanya menghabiskan waktu berkisar 30 menit dari Bandara Juwata, Tarakan. Tidak ditemukan kendala berarti dalam perjalanan. Kecuali, sempat memasuki sebuah lorong yang panjangnya berkisar setengah kilometer.

Lorong ini agak sempit. Jika bus berpapasan, salah satunya harus mencari ruang agak luas untuk berhenti seraya memberi jalan bus lainnya. Kedua-duanya harus menyetel spion agar tidak bergesekan.

Pada hari pertama mencari Abdul Wahab, Jumat sore, 1 Oktober, pukul 17.15 Wita, hati saya deg-degan. Apalagi ketika memasuki lorong dengan tanjakan tajam tersebut, banyak anak muda berkerumun. Salah seorang di antaranya duduk di atas motor yang terparkir di sisi kanan jalan. Ia serius memainkan tombol HP-nya. Tidak mempedulikan orang yang akan lewat.

Hati saya semakin cemas. Saya ragu-ragu hendak mengucapkan salam atau sapaan lainnya. Saya lalu ingat ajaran orang tua, “Perbaiki napasmu. Orang buta pun akan tersenyum bila hatimu senyum padanya.”

Dengan kebiasaan kampung, saya “mappatabe” (membungkukkan badan sedikit dengan tangan kanan ke bawah di sisi kanan paha) seraya mengucapkan, “perimisi…” Saya tidak menggunakan diksi “tabe” karena takut diketahui kalau saya orang Bugis. Maklum, tokoh yang hendak saya kunjungi ini ikon yang baru saja berkonflik dengan Bugis Letta. Jangan sampai persepsi mereka lain.

Saya sangat lega ketika anak muda yang duduk di sisi kiri jalan memberi respons. Ia menggeser standar motornya seraya tersenyum dan mengucapkan, “silakan.”

Lebih lega lagi ketika bertanya kepada salah seorang yang bertubuh tambun di pos ronda. Saya baru membungkuk sedikit, pria berkaus biru itu tersenyum ramah. Ia langsung berdiri dan menunjukkan rumah Abdul Wahab. Sayangnya, rumah di Kelurahan Kampung Satu Skip RT 13 RW 02 No 24, Tarakan itu tergembok dari luar.

Jelang Magrib, saya memilih ke kantor Radar Tarakan (grup FAJAR). Saya mencoba menanyakan kepada teman-teman wartawan tentang karakter orang Tidung. “Orang Tidung itu ramah-ramah, Mas. Mereka itu sabar-sabar,” kata Mbak Ani yang lama meliput peristiwa kota ketika masih reporter.

Saya pun semakin yakin untuk bisa berbincang lebih dekat dengan Abdul Wahab. Tinggal mencari momen kapan dan di mana saya harus temui. Saya memilih menungguinya di “markasnya”, Masjid Agung Al-Ma’arif di Jl KH Agussalim No 1, Kelurahan Selumit, Kecamatan Tarakan Tengah.

Masjid yang menjadi tempat Musabaqah Tilawatil Quran VIII 2010 di Tarakan itu, pada pekan terakhir ini, banyak warga yang mengaku masih trauma lewat di sekitarnya. Hal ini terjadi sekaitan kasus pembunuhan yang memicu kerusuhan. Di masjid inilah tempat beribadah mayoritas warga Tidung.

Di masjid ini pulalah banyak keluarga almarhum Abdullah bin H Salim beribadah. H Abdullah Salim meninggal dunia pada Minggu, 26 September 2010 di Kelurahan Juata Permai akibat pertikaian yang memicu kerusuhan di beberapa tempat di Tarakan.

Sabtu siang, 2 Oktober, momentum itu pun datang. Saya memilih salat zuhur di masjid tersebut. Karena pengalaman kemarin sore ketika mendapatkan warga Tidung yang ramah itu, ditambah cerita Mbak Ani tadi tentang kesabaran warga Tidung, maka saya pun melangkah ke kawasan masjid tersebut.

Saya berupaya melupakan cerita warga yang masih enggan lewat di sekitar masjid tersebut karena trauma terhadap peristiwa pembunuhan yang memicu kerusuhan. Apalagi sebelumnya ada sosialisasi kesepakatan damai di masjid itu, maka saya pun semakin optimistis.

Lagi-lagi, senyum salah seorang warga Tidung saya dapatkan ketika hendak membuka sepatu di anak tangga masjid. Pria itu sedang mencabut jenggot. Melalui cermin di depannya, ia melihat kedatangan saya. Dia berbalik. Saya sedikit membungkuk, dia pun tersenyum.

Yang sedikit membuat saya ragu-ragu karena menggunakan atribut Makassar (baju FAJAR). Namun, semua keraguan itu hilang tatkala saya menyalami seseorang. Sosok ini begitu tinggi. Saya tak sempat lagi memperkirakan berapa sentimeter tingginya. Yang jelas, kalau sama-sama berdiri, kepala saya hanya mencapai ketiaknya. Dialah H Abdul Wahab.

Untuk memulai perbincangan, saya menyalami sambil mengajak foto berdua. Saya merangkul belakangnya. Dia pun memegang lebih erat. Saya lalu teringat daya “magis” sebuah kamera. Meskipun ini kamera kecil, tapi saya agak lama menyetelnya di hadapan wajah sosok agak kurus ini. Ia tersenyum setelah agak lama baru memencet tombol kamera.

Saya memang sengaja melakukan itu sebagai terapi. Kamera bisa membuat down seseorang yang angkuh. Padahal, tanpa melakukan itu, H Abdul Wahab pasti juga ramah. Selain karena ia warga Tidung, juga karena memang bukan preman.

Saya memulainya dengan mengungkapkan isi hati keprihatinan terhadap sebuah musibah. Saya berpihak kepada semua yang terpaksa berduka. Bahwasanya, tidak ada lawan dalam perspektif kemanusiaan. Manusia cuma satu. Yang berbeda hanya rupa. Apalagi, kasus yang menimpa warga Tarakan ini melibatkan saudara seiman; sesama Islam.

Abdul Wahab tidak berkomentar banyak. Berkali-kali memejamkan mata. Air mukanya sedikit berubah; tegang. Sepertinya menahan air mata. Ia lalu berujar, “Kita semua menyayangkan peristiwa ini.” Ia tidak memperjelas peristiwa yang disayangkan. Ia mengusap matanya.

Masih begitu kental perisitiwa yang dikenangnya. Ia memang keluarga dekat almarhum Abdullah bin H Salim. Namun, kebesaran hatinya terungkap juga ketika dia berujar, “Kepada anak-anakku, kepada adik-adikku, janganlah bertindak melawan hukum karena peristiwa ini hanya kriminal murni. Ini peristiwa biasa, hanya melibatkan oknum orang Letta dengan oknum orang Tidung.”

Pernyataan Abdul Wahab semakin meneguhkan sosok ini sebagai tokoh masyarakat. Tak salah jika ia didaulat untuk menandatangani naskah Kesepakatan Damai di Tarakan. Tak salah pula jika dia diboyong ke beberapa wilayah rawan konflik untuk mensosialisasikan hasil kesepakatan perdamaian tersebut.

Toh, pada hari-hari mendatang, baik di sekitar Masjid Agung ini, maupun di Tarakan pada umumnya, kedamaian adalah sesuatu yang menjadi harapan bersama antarsuku.

Tak salah pula, jika di sekitar anak tangga Masjid Agung ini dipajang sebuah tulisan sederhana, berbunyi, “Jagalah kebersihan kesucian masjid ini!” Dan, dengan demikian, menodai Kesepakatan Damai terebut, berarti kesucian Masjid Agung Tarakan pun ikut tercoreng. (*)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: