Bertumbuh dengan kesabaran

Kesabaran adalah tanda dari kedewasaan seseorang. Kalau saudara ingin bertumbuh, belajarlah untuk bersabar. Saat bayi tidak mendapatkan keinginan mereka dengan segera, mereka akan sangat marah dan menangis keras. Kebanyakan anak-anak sangat tidak sabar, mereka tidak tahu perbedaan antara “tidak” dan “belum”. Kedewasaan melibatkan kemampuan untuk mengunggu, untuk hidup dengan persetujuan yang tertunda.

Kesabaran dimulai dengan mengubah cara pandang saudara. Saat seseorang sedang tidak sabar, orang tersebut mempunyai perspektif yang terbatas. Yang ia lihat hanya diri sendiri, kebutuhannya, keinginannya, tujuannya, jadwalnya, dan bagaimana orang lain telah mengacaukan hidupnya.

Kembangkanlah persepektif yang baru.
Temukan cara baru untuk memanda situasi atau orang yang membuat Saudara terlibat dalam masalah. Apakah saudara ingin tahu rahasia untuk sukses? Kalau saudara ingin menjadi suami atau isteri yang sukses, belajarlah melihat kehidupan dari sudut pandang pasangan saudara. Kalau saudara ingin menjadi orang tua yang sukses, belajarlah melihat kedupan dari sudu pandang anak saudara. Kalau saudara ingin menjadi pebisnis yang sukses, belajarlah melihat kehidupan dari sudut pandang konsumen saudara. Kalau saudara ingin menjadi atasan yang sukses, belajarlah melihat kehidupan dari sudut pandang bawahan saudara.

Pandanglah segala situasi dari perspektif orang lain.
Ketika saudara memandang situasi dari perspektif orang lain, saudara akan mengerti mengapa seseorang merasakan dan bereaksi seperti yang telah mereka lakukan. Ketahuilah bahwa cara lain yang lebih potensial untuk mengurangi konflik dalam kehidupan saudara adalah menempatkan diri saudara dalam posisi orang lain.

Kebijaksanaan
“Akal budi membuat seseorang panjang sabar dan orang itu dipuji karena memaafkan pelanggaran.” (Amsal 19:11). Dengan kata lain kebijkasanaan yang dimiliki seseorang membuatnya mampu bersabar. Kebijaksanaan adalah melihat kehidupan dari sudut pandang Allah. Dari perspektif diri saudara akan bisa berkata:

  1. Saya hanya seorang manusia, bukan Tuhan. Saya tidak sempurna dan tidak bisa mengendalikan semua yang terjadi dalam kehidupan saya.
  2. Tidak ada orang lain yang sempurna juga. Jadi seharusnya saya tidak terkejut atau marah secara berlebihan ketika mereka mebuat kesalahan atau mengecewakan saya.
  3. Tuhan adalah satu-satunya yang memegang kendali. Dia dapat menggunakan situasi, gesekan atau konflik, dan masalah yang saya alami untuk menggenapi rencanaNya dalam hidup saya./Sr/Warta Jemaat GKKD Djogja.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: