Terimalah Dengan Ikhlas

Oleh: Sunanto

Ketika Ayub, orang saleh tersebut kehilangan semua anak-anaknya dan harta bendanya, dia tidak menyalahkan Allah dan masih bisa memuji Tuhan. Ketika tubuh Ayub ditimpa barah yang busuk dari telapak kakinya sampai ke batu kepalanya, dia masih tidak menyalahkan Tuhan. Ketika isterinya menyarankan Ayub untuk mengutuki Allah masih tetap tidak berdosa dengan bibirnya.

Saya percaya bahwa Ayub sebelumnya telah pernah mengalami pergumulan dalam hidupnya dan mungkin dari pengalamannya tersebut dia memiliki pengharapan bahwa Tuhan tidak akan terlambat memberi pertolongan kepadanya. Akan tetapi, untuk kali ini pertolongan Tuhan sepertinya tidak datang-datang juga.Tidak terjadi mujizat seperti yang dia pernah alami sebelumnya. Lambat laun iman Ayub mulai goyah sehingga dia mengutuki hari kelahirannya dan menyalahkan Allah yang telah bersikap tidak adil kepadanya. Kemudian Ayub membela diri dan menuntut Allah bahwa dia merasa tidak bersalah. Tetapi pada akhirnya Ayub mencabut perkataannya dan menyesal sehingga Tuhan memulihkan hidupnya.

Saya dulu pernah bergumul menghadapi penyakit kanker yang diderita alm Ayah saya. Selama sekitar 3 bulan saya harus menemani Ayah saya di rumah sakit. Bagi Anda yang pernah melihat orang yang sedang dirawat kanker stadium akhir, tentu dapat memahami bagaimana beratnya penderitaan yang dialami. Sekujur tubuhnya sakit dan mengalami pembengkakan sehingga pasien banyak yang minta disuntik mati karena tidak tahan dengan rasa sakit yang menyerang. Belum lagi efek dari kemoterapi yang menyebabkan sekujur tubuhnya kepanasan. Walaupun saya tidak benar-benar memahami mengapa Tuhan mengijinkan hal itu terjadi, saya memutuskan untuk menerima dengan ikhlas dan bersyukur kepada Tuhan. Karena kurang tidur dan istirahat selama berbulan-bulan saya terserang penyakit nyeri di kepala yang baru sembuh setelah satu tahun berlalu sejak meninggalnya Ayah saya. Di kepala saya tumbuh bisul yang sakitnya menjalar ke telinga, punggung sampai ke telapak kaki. Pada awalnya saya mengira bisul tersebut akan mudah disembuhkan tetapi Tuhan mengijinkan setahun lebih saya menderita sakit tersebut. Sejujurnya saya sempat kesal juga dengan bisul yang tidak sembuh-sembuh itu.Apalagi saat sakit tersebut mulai menjalar ke telinga dan punggung, bahkan kadang saya mengalami serangan vertigo (keadaan seperti gempa bumi).

Madame J. Guyon mengatakan kita harus menerima segala sesuatu ( kecuali dosa kita) seperti datang dari Tuhan sendiri. Setiap kali penderitaan datang dalam hidup kita, terimalah dengan ikhlas dan serahkan diri kita kepada Tuhan.Dengan melakukan hal ini maka salib yang menimpa kita akan terasa jauh lebih ringan ketimbang bila kita memberontak atau melawan proses Allah. Biarlah api penderitaan tersebut memunculkan emas kesalehan dari diri kita. Inilah proses yang harus dilalui oleh setiap orang yang ingin mengalami indahnya hidup dalam keintiman dengan Tuhan. Tidak ada jalan lain kecuali jalan salib yang dapat membawa kita ke sana !

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: